Waktu itu Iman sedang menginap di rumah Hesti, kakak keduanya. Tiba-tiba di sela obrolan sore ibu berkata “enak juga ya man… kita jadi kaya liburan disini, ibu rasanya tenang.” Iman rasanya kaget mendengar ibu berbicara seperti itu. Ya memang mungkin ibu butuh hiburan dengan bertemu keponakanku yang pintar berbicara itu. Tapi ini kan bukan rumah kita, aku pikir seharusnya tenang itu saat kita berada di rumah sendiri. Dimana segala hal yang kita miliki itu bisa kita syukuri, sehingga semuanya bisa buat kita jadi tenang. Harusnya memang begitu.
Pernah dulu, saat Iman baru bangun tidur dengan siangnya, ibu bertanya dengan lembut. “nak… bagaimana klo rumah kita ini dijual?”. Iman heran dengan pemikiran ibu. “Lalu kita mau tinggal dimana BU?”. Ibu tetap tenang dengan pertanyaan balikan dari Iman yang setengah kaget nadanya. “kita bisa tinggal di rumah Hesti, lagipula rumah kakakmu itu juga lumayan untuk bisa kita tempati, masih banyak ruang yang kosong, cukup untuk kita berdua. Ibu juga nanti bisa sambil bantu-bantu Hesti, ngurus ponakanmu. Toh, Sukma akan pindah dari sini, menempati rumah barunya dan kita hanya berdua…bagaimana menurutmu?” Iman cenderung aneh dengan pemikiran ibunya. Sukma, kakak pertamanya yang baru berkeluarga memang saat ini tinggal bersama Iman dan Ibunya. Mereka memang sedang membangun rumah dan sebentar lagi selesai. Tapi kenapa rumah jadi ikut dikorbankan?. Harusnya memang begitu.
“maaf…” Iman mencoba menjawab dengan tenang. “Iman kurang setuju dengan pikiran ibu yang ingin menjual rumah.. bagaimana juga menurut Iman.. rumah itu ibarat harga diri bila dikaitkan dengan pikiran ibu yang barusan. Iman ngeliatnya, kita bakalan hidup numpang. Meski rumah kecil dan pas-pasan kalo semua anak-cucu ibu pada ngumpul, tapi ini kan rumah kita bu… ini milik kita. Iman tau sekarang waktunya Iman buat cari-cari kerjaan dan bagaimana pun nanti Iman yang bakal hidup bareng ibu serta mbiayai rumah ini. Tapi maaf bu sekali lagi…Iman kurang setuju dengan pikiran ibu.” Iman tetap mencoba mengatur nafas, menahan rasa dongkolnya dan ibu mencoba bicara. “Ini bukan masalah kamu yang belum dapet-dapet kerja man, ibu tau kamu sudah terlalu lama menganggur dan jadi agak sensitif, tapi ibu juga tau kerjaan itu rejeki… ibu rasa, ini hanya efisiensi saja man…”. Harusnya memang begitu.
Iman tetap mencoba menatap wajah ibunya dan berkata. “Bu… masalahnya bukan hanya disitu saja, Ibu kan juga punya besan… Lalu apa nanti kata mereka kalo kita tinggal disana. Menumpang. Ngerepotin. Cuman bisa menclok di harta anak mereka.” Iman tersengal sedikit menahan liur di tenggorokannya dan lamat-lamat mulai berbicara kembali. “Iman rasa cukup bu…cukup. Cukup untuk bisa hidup seperti ini. Iman bangga punya ibu yang bisa bertahan meski sendiri dan besarin kami bertiga. Anak-anak ibu…. Sampai seperti ini. Sudah kenyang bu rasanya ngerasain kata orang tentang kita yang ga enak, sejak ayah meninggal. Kita ga perlu bergantung bu. Memang klo tinggal disana, ibu lebih dekat dengan Radit. Ibu bisa bantu Hesti agar dia kerja lagi. Tapi saya mohon bu, jangan sampai rumah ini dijual. Ini milik kita. Harga diri kita, ibu…saya…dan juga keluarga. Maafin Iman bu, mohon ibu pikirkan kembali.” Harusnya memang begitu.
“baik…” Ibu menjawab singkat dan pergi.
Sedih sebenarnya… saat konstruksi sosial berubah memandang harta menjadi dewa. Strata yang ada di masyarakat harus berubah saat harta lagi-lagi tunjukkan kuasa. Seakan akhlak menjadi nomer ke-sekian dari kehidupan. Kita tau manusia butuh kemapanan. Tapi sejauh apa dan bagaimana kita memandang arti kemapanan tersebut. Apa mapan hanya harta? Lalu bagaimana dengan hati?
Andai semua manusia memandang manusia sebagai manusia, dan punya hak yang sama.
Tuhan mencipta manusia…
Manusia menjadi pintar…
Manusia mencipta uang…
Uang menjadi keharusan…dan
Uang membuat manusia seakan melebihi Tuhan..
TERIMA KASIH untuk hidup yang sederhana

