Cara turunnya Gimana yaa... ???!
Selasa, 01 September 2009 by Unknown , under
Awalnya mereka memanggil gw “Bayi Gorilla”, hanya satu oknum senior yang memanggil gw dengan cara yang beda. Pelafalan sebutan “Bayi Gorilla” dia treakin ala abang-abang asongan yang sering lo temuin di terminal-terminal atau bis ibukota. Cara dia manggil gw dengan treakan “Bayi Goro..rilla..Goro..rilla..rilla..rilla..rilla !!!” berhasil ngebuat orang-orang di sekitar gw tertawa, mesem-mesem, cekikikan. Termasuk Maba2 yang saat itu senasib kaya gw…TERTINDAS !!!
Lama-lama sebutan “ Bayi Goro..rilla..” mungkin terlalu kepanjangan buat mereka sebut, dan mereka pun menyingkat nama panggilan itu dengan sebutan “GORI.” Oke… Label ini bukan sesuatu hal yang gampang buat langsung gw terima. Gw sadar ini OSPEK, suatu acara kampus yang bentuknya kolosal dan dengan adanya satu oknum senior pembawa bencana itu. Nama gw sekarang jadi berubah total dari RM. Aryo Suryolangit menjadi Gori. Yaaaa…seenggaknya hikmah yang bisa gw ambil dari nama baru itu, gw jadi tenar di kalangan senior maupun angkatan gw sendiri. Hahaha….KENCUR !!! (masih menyimpan dendam)
Sekarang gw mulai terbiasa dengan panggilan Gori…dan ini tahun pertama gw kuliah di Malang… gw tetep punya masalah ??!! Ya ! gw hidup, pasti bermasalah. Bukan masalah keuangan yang biasa di derita mahasiswa rantau, Tapi masalah ini terus muncul akibat trauma masa kecil gw yang pernah jatuh di tangga penyebrangan. Masalah gw…climacophobia atau biasa kita sebut PHOBIA TANGGA.
“Gor !!!” ( tiba-tiba suara keras memanggil dengan logat batak)
Itu Mordar, dia salah satu perantau dari tanah batak yang kuliah satu jurusan bareng gw.
“Wei dar ! darimana lo?!” (ekspresi muka gori sedikit aneh)
Gori sadar saat ini dirinya menjadi sorotan orang-orang di sekitarnya. Mordar memang mempunyai suara oktan tinggi hingga bisa memecah keramaian di sudut kampus.
Tiba-tiba…
“Praak ! pek kepek kepek…” suara lompatan burung merpati yang terbang menerobos daun-daun kering di pohon membuat keramaian seakan bangun kembali setelah mati suri karena hebatnya suara Mordar.
“Darimana…?? Kau yang kucari-cari dari tadi. Kemana saja ??! bak hilang dimakan closet saja kau !!.” Mordar berbicara sambil memperhatikan wanita-wanita di sekelilingnya. “Dimakan closet ?!!” Gori heran, sambil mengernyitkan dahinya. “Tai dong gw !!!.” Jawab Gori menghentak. “Hahaha…becanda kawan.” Mordar terlihat senang setelah sukses mengejek Gori.
“Eh…kudengar hari ini kao mao ngedate ?!” Tanya Mordar dengan nada nyolotnya.
“dengan siapa?. Wanita fakultas sebelah itu??!”. Mordar memang mempunyai ketertarikan yang berlebihan dengan sesuatu yang menyangkut lawan jenis, jadi ga heran kalo dia bisa memberondong beribu pertanyaan tentang wanita. “iya.” Jawab Gori singkat dan ga terlalu bersemangat dengan pertanyaan-pertanyaan Mordar. Sebenarnya Gori merasa gugup dengan acara ngedatenya kali ini, bukan karena wanita yang ingin di temuinya, tapi karena obat penenang yang biasa dia pakai bila bertemu tangga memang sudah habis.
“Kenapa kau Gor?! Pengen ketemu gebetan kok malah lesu begitu..payah ah !”. Tanya Mordar heran dengan reaksi Gori. “Obat gw abis dar” jawab Gori kembali singkat. Saat Mordar mulai membuka mulut ingin menanggapi jawaban gori, tiba-tiba terdengar suara cw.
“Mordaaaar…gmn ?!...%$##@#%%^” . (suara cw yang terbiasa dengan rumpi, gossip, dan semua hal yang ga bisa bikin mulutnya diem kecuali hanya untuk tidur)
Cw itu Brusel. Dia temen sekelas gw yang emang dah kliatan banget klo seneng sama Mordar. Tapi mordar cuma nganggep Brusel jd fansnya aja. Hahaha.. dasar bandit !
Kemunculan Brusel bikin Gori langsung dicampakkan oleh Mordar. “Dar ! gw cabut dulu ya !” Coba Gori memberi tau Mordar akan keberadaannya, tapi Mordar tetep bicara seru dengan Brusel. “Gw takut telat..dah janjian nih !”. Mordar tetap asik dengan Brusel, respon yang dia berikan pada Gori hanya sekedar telapak tangan yang terbuka, menandakan bahwa Mordar memberikan izin Gori untuk pergi.
Pada tempat berbeda…
Terlihat sosok cw cantik dengan body aduhai memakai baju terusan dipadu sepatu converse menunggu di depan etalase mall. Cw cantik itu Resta. Dia cw yang saat ini janjian untuk kencan sama Gori.
Terdengar napas Gori yang tersengal-sengal. Dirinya langsung menghampiri Resta yang daritadi keliatan dah nunggu. “Resta.. maaf ya telat..hehe” sapa Gori sambil mengatur napas dan jarak tubuhnya dengan Resta akibat keringat yang membanjur. “ga papa kok, baru bentar nunggunya”. Suara Resta merespon Gori dengan renyah. Keduanya pun langsung masuk ke dalam mall. Sebelumnya mereka memang telah sepakat untuk menonton film saat itu. Dan Gori pun baru tersadar bahwa bioskop berada di lantai 3.
Pergolakan di dalam dirinya mulai terasa, Keringat-keringat ketakutan mulai muncul di kulitnya sebesar biji jagung. Resah. Kisruh. Gori tak bisa menghindar ketika escalator berjarak kurang lebih 10 meter di depan mukanya. “Res.. aku ke kamar mandi dulu ya bentar” ucap Gori mengelak untuk nyoba hindari escalator dari tatapan matanya. “nanti aja di atas…ntar keabisan tiket lho !” desak Resta memaksa Gori. “ Aduh maaf Res..aku kebelet banget nih…maaf ya..” Gori langsung pergi buru-buru ninggalin Resta, langkahnya yang cepat memang membuat Gori seakan akan betul-betul kebelet boker. Gori pun terus mempercepat langkahnya, tapi dia bukan pergi menuju kamar mandi, melainkan pergi keluar mall tersebut. Gori mulai tak peduli dengan nasib Resta yang menunggu dia di dalam.
Secara tak sadar, Gori telah jauh meninggalkan mall tersebut. Kecemasan di dirinya berangsur angsur mulai larut dengan hingar bingar suara kendaraan di jalan dan ia pun mulai memperlambat langkahnya. Dalam hati sebenarnya ia kesal dengan keadaan ini. “Anjrooot ! parah banget gw. ah ! trauma sialan ! obat pake acara abis lagi… apa kata Resta nih kalo besok gw ketemu dia. Mati deh gw” Sambil berjalan yang tak jelas arahnya, Gori tiba-tiba baru terpikir…”Aaaargh !! Gila !! kenapa gw ga kepikiran buat naik lift yah !! Goblooook !!!..hahah” Ketika Gori ingin kembali menuju mall yang telah di tinggalkannya, tiba-tiba terdengar suara jeritan ibu-ibu. “Tolooooong !! tas saya di jambret !!!!”. Mendengar teriakan itu, Gori langsung tanggap.
“Braaaak !!” seseorang menabrak Gori dari belakang. Gori hampir tersungkur. Orang itu pun langsung lari kembali tanpa menghiraukan Gori yang hampir jatuh. “woi anjing ! liat-liat dong kalo di trotoar !!” teriak Gori kepada laki-laki yang telah menabraknya. Dirinya pun sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada laki-laki tersebut. Feelingnya mengatakan dialah si penjambret tas. Tanpa pikir panjang, Gori langsung mengejar laki-laki tadi. Keadaan trotoar memang tidak ramai, hanya Gori dan beberapa pedagang kaki lima yang tak beranjak untuk mengejar penjambret tas itu.
Gori hanya berlari. Yang ada di pikirannya hanya lari. Seperti Gump yang sedang mengadakan misi damai dalam film Forrest Gump. Dirinya seakan melayang, tetapi penjambret itu tampak lebih ringan untuk terbang. Sampai akhirnya penjambret itu lari menaiki tangga penyembarangan. Aaaarghhh !!! sekelibat Gori sempat gentar untuk terus mengejar si jambret. Tapi Gori sudah tak kuasa menahan kakinya untuk melakukan manuver pengereman mendadak, dia hanya bisa memejamkan mata, tangga jembatan penyebrangan saat ini hanya berjarak 2 meter di depannya. Gori terus berlari dan ia pun tak sadar sudah melewati 8 anak tangga. Ia mulai membuka matanya sedikit-sedikit, mencoba melihat agar tidak tersandung. Yah ! tak terasa memang !! Saat ini Gori sudah sampai di atas Jembatan penyebrangan.
Gori menyerah. Takluk terhadap lincahnya kaki si penjambret. Suara napasnya menderu. “huh..huh..huh..” terdengar suara napas Gori yang berat. Dirinya berada dalam posisi seperti orang yang sedang rukuk. Perlahan dia mulai menegakkan badannya. Angin terasa kencang. Sosok si penjambret pun mulai hilang. Sesaat Gori terdiam, Rona wajah sumringah mulai tersirat di wajahnya. Seketika Gori teriak. “EdaaaaaAAANNN !!! gw ada di atas !!! gw bisa naek tangga !!! Hahaha..” teriakan Gori membuat takut orang-orang yang ingin menyebrang. Ia pun menikmati keberadaannya saat ini yang sedang berada di atas jembatan penyebrangan, sambil sesekali di selingi senyuman-senyuman aneh di wajahnya. Mungkin hari itu Gori menjadi salah satu orang yang paling bahagia di dunia. Setara dengan orang-orang yang sukses mengucap ijab kabul, menikmati hari kelahiran, mungkin juga menikmati legitnya perawan. Haha..
Gori mulai bosan dengan keadaan di atas jembatan penyebrangan, ia pun berniat untuk turun kembali menemui Resta yang mungkin saat ini sudah menjadi agar-agar karena terlalu lama menunggu. Sambil tersenyum senyum sendiri ia nikmati semilir angin yang berhembus kencang. Sampai akhirnya ia mencapai ujung jembatan penyebrangan.
Entah mengapa. Gori menjadi pucat seketika. Kegelisahan seolah merenggut senyuman-senyuman aneh di mukanya. Dia terdiam memandang ke bawah. Mengambil HP dari saku celananya. Lalu menelpon Mordar.
“Halo..”. Mordar menjawab telepon dari Gori.
“DAR…CARANYA TURUN TANGGA GIMANA YAaaa…??!!”
Lo mao keliatan PINTER ?!
by Unknown , under
Lo mao keliatan pinter, karena lo punya segudang buku-buku dengan judul-judul yang handal dan tersusun rapi di kamar lo, tapi pas ada org yg nanya isi salah satu buku yg lo punya. Tetep aja lo cmn jawab ba...bi...bu...ehm
Lo mao keliatan pinter, karena lo tau banget seluk beluk, tetek bengek, cara mikir, dan segala rupa yang menyangkut lawan jenis lo..
Lo mao keliatan pinter, karena lo selalu make istilah-istilah aneh dan benernya cuman lo sendiri yang tau artinya..
Lo mao keliatan pinter,karena mulut lo oke banget ngeluarin rentetan ayat-ayat suci, padahal mah kelakuan lo....uhm
Lo mao keliatan pinter, karena lo selalu dikelilingin barang-barang berteknologi paling mutakhir dan lo seolah-olah gape' banget sama barang handal lo, padahal sih cuman ngikutin jaman aja...
Lo mao keliatan pinter,karena lo banyak omong dan selalu punya cerita tentang aktivitas-aktivitas lo dengan orang-orang terkenal, seolah-olah lo emang bagian dari hidup mereka..
Lo mao keliatan pinter, karena lo selalu dateng ke forum-forum yang isinya hal-hal kritis, dan sebenernya itu cuman sebuah doktrin yang sifatnya kontradiktif..
Lo mao keliatan pinter, karena lo bisa seharian mikirin suatu hal sampe lo ga keluar-keluar kamar, jidat lo terus-terusanan dibikin mengkerut,, sampe ada garis-garis yang ngebekas di jidat lo itu..
Lo mao keliatan pinter, karena lo pengikut setia suatu paham dan lo selalu masukin jargon-jargon andalan dari "dewa-dewa" lo itu di setiap obrolan..
lo mao keliatan pinter??
GW ENGGAK !!!
gw ga mao cuman "keliatan" gw mao bisa "merasakan"
seperti waktu lo fokus terhadap satu hal...
kekuatan fokus ibarat cahaya...
klo cahaya itu menyebar, kekuatannya jadi lemah..
tapi.. waktu cahaya itu fokus, cahaya bisa punya kekuatan yang besar..
seperti laser yang bisa motong baja...jieh...
*____*
Ketika badut Berandai-andai..
by Unknown , under
Badut memulai harinya dengan menonton TV..."Ceklek"
"Uhm...acara Lenong nih..lucu kayanya...lagian sapa tau gw punya bakat ngelenong..lumayan deh buat tambah2 INSPIRASI buat manggung (red. yang dimaksud sebenernya bukan panggung, tapi hanya ruang gerak sebesar 2 x 0,5 meter buat ngehibur anak2)"
menjelang akhir2 acara lenong, tiba2 si badut nyeletuk "aaaAh...",, tiba2 si badut jadi mikir...(jidatnya mengkerut..)
(pikiran badut)
menerawang: wiiiih...klo yang kaya gini jadi inspirasi sih bisa kacau...baru mulai..eh dah maen cela2an, trus kok selalu ada cowo yang dandan kaya cewe...perasaan dari dulu yang namanya lenong ga perlu ada bencong. Euuhm.. Abis itu di akhir acara selalu aja ada pemaen yang digebukin..ugh..tragis..
Pukul 12.30
Badut kembali menonton TV
"Wah...siang2 acara talkshow...boleh nih...katanya presenternya kocak2..tonton ah...sapa tau gw punya bakat jadi presenter..kan bisa nih, jadi presenter sambil ngelawak..hihihi...INSPIRASI juga nih..."
di akhir acara talkshow itu, lagi2 si badut mengeluh "heeeeeeeu", badut jadi mikir lagi...(jidatnya mulai keliatan bergaris...)
(pikiran badut)
kembali menerawang: Gila nih jadi presenter pada gitu2 amat yah...berasa lagi nonton Tom n Jerry ato adegan2 di filmnya The Tree Stooges (red. grup lawak era 50-60an yang terkenal dengan komedi slapsticknya). Paraah...kasian banget tuh presenter yang kaya bencong, dibikin menderita mulu...disembur, ditampar, di suntrungin..beuh. Yang bikin heran...kenapa selalu ada laki2 ngondek...lagi trend kali nih. Ada satu lagi Yang bikin tambah parah, kenapa mereka selalu aja jd "objek" bukan "subjek", tapi mereka juga bukan jadi "objek yang" sembarangan...melainkan jadi "OBJEK PENDERITA !!!"...Uhm...makin tragis..
Pukul 21.30
Badut lagi2 nonton TV... dengan harapan mendapatkan inspirasi..
"wiiw... acara parodi orang2 parlemen nih.. selaen lucu bisa nambah2 info juga nih... tonton ah..."
di tengah2 acara itu, tiba2 badut kembali mengeluarkan keluhan dan keluarlah suara dari mulutnya "Ealaaaah...", badut untuk kesekian kali dan lagi2 berpikir...(sekarang di jidatnya bukan lagi garis yang keliatan...tapi kerutan2 itu dah berubah jadi sebuah labirin !!!)
(pikiran badut)
lagi2 menerawang: Ya ampuuun...ini sih ujung2nya tetep aja maen cela2an, cuman packagingnya aja rapih...duh ! mana pake replika orang2 terkenal...trus ada yang bentuknya "sakit" masiiiih aja di jadiin bahan lawakan..erghHH...bener2 tragis..
Badut pun akhirnya mematikan TV... dirinya tiba2 merenung sambil nungguin serangan ngantuk yang ga dateng2...
(Badut merenung...)
ANDAI... gw jadi pelawak yang suka muncul di TV..gw harus bisa beberapa syarat...
1.Harus kuat2 mental..
"Gila nih.. jadi pelawak ga jauh dari maen cela2an. Klo gw gampang sakit ati sih..deuh..bisa aja tiba2 gw ngamuk dpn kamera, sukur-sukuuuur....klo cuman ngamuk. Klo gw kena serangan jantung pas ON AIR, yaaah...tamat aja gitu riwayat gw ??? uhm...PEMBUNUHAAAAAaaaaaN !!!!"
2.Harus kuat2 diri jadi banci walaupun benernya seorang laki2 tulen, pokoknya harus tetep bisa nerima, karena ini salah satu hal yang masih bisa bikin orang ketawa terpingkal-pingkal, jatoh bangun, sambil posisi kapal terbang trus loncat macan...Auuuuum !!!. Satu lagi buat karakter banci untuk acara2 TV saat ini...NGEJUAL !!! (panjang juga y...)
"EErrrgh...Apa harus jadi banci yah? Gimana yah perasaan tuh banci tiap nonton TV? pasti sedih... tapi kok keberadaan banci sekarang2 ini jadi makin banyak yeah.. Apa mereka ga pernah nonton TV? lagian kok ga ada perlawanan dari mereka? malah cuek...Apa semua banci cuman langganan TV kabel di rumahnya?..uh.."
3.Harus Tega
"Semua orang pasti punya kekurangan...apalagi klo ngeliat kekurangannya di fisik..weuh !! keliatan bangeeeeet... Makanya kudu tega ...klo pas tandem maen kita orangnya ancur..justru harus di bikin tambah ancur lagi pake cela2an yang jitu..euhm...dosa besar nih..tindakan ZALIM..waaah...NERAKAAAAAA !!!"
(Badut merenung dengan dalam..lebih dalam...sangaaat dalam..)
uuuHmmm... Apa iya orang2 d luar sana lebih tertarik sama acara lawakan di TV yang sifatnya cela2an, tabok2an, cepol2an, banci2an,mungkin jugaaaa...jelek2an (fisik). Apa mungkin juga yah jiwa2 mereka dah kotor.. trus jadinya mereka lebih suka sama lawakan2 yang sarcasm kaya gitu...
Padahaaaaal kerjaan gw juga ngehibur...trus juga bisa bikin orang ketawa...
trus... Eeeu..Eeeeu...apa ya???!!
(Badut tetap merenung...)
AAAaaaaahhhHHH !!!!
ini yang bikin pekerjaan jadi seorang badut keliatan beda !!!
cara gw...cara gw yang bikin beda !!!
Gw tetep bisa ngelawak dengan permaenan2 seru yang mudah mereka pecahkan...
Gw juga tetep bisa ngehibur mereka dengan trik2 sulap kacangan yang dah jad kelihaian gw dari dulu ..
SEMUA ITU GW LAKUIN TANPA HARUS CELA2AN ATAU BERGAYA JADI BANCI SEKALIPUN !!!
lo tau kenapa....????
karena penonton gw bukan orang2 yang jiwanya kotor !!!
Mereka semua ANAK2 !!!
mereka semua masih polos...
lagian mereka juga belom terlalu parah untuk terkontaminasi lawakan2 yang ada di TV...
mereka semua belom fasih untuk semua lawakan itu !!!
Tiba2 si badut membuka matanya..tersenyum...dan mengucap...
"ternyata...pekerjaan gw mulia juga...tetep menghibur tanpa perlu mencela...hehehe"
*lakuin semua yang lo kerjain dari hati
karena melalui hati sebuah intuisi dapat terasah..
terasah...??? ya terasah...
seperti pisau yang bisa menembus kulit lo...
dan...
seperti pedang yang siap buat ngelawan ribuan musuh di depan lo...(keraguan)
(didedikasikan untuk mereka badut-badut panggilan yang mulai tersisih oleh zaman)..huhui...
*dibuat pada 06/01/09
KETIKA aku dan ENGKAU...
by Unknown , under
KETIKA aku habiskan waktu-waktu yang seharusnya berharga dengan segala hal yang tak karuan...hanya ENGKAU..ENGKAU yang benar-benar bisa menyapaku denga tegas...
KETIKA aku bermimpi, berkhayal dengan segala angan-anganku sampai akhirnya aku lupa dengan kewajiban...hanya ENGKAU...ENGKAU yang benar-benar bisa membangunkanku dan mencoba menempatkanku pada rel yang telah ENGKAU buat...
KETIKA mereka berpikir aku hebat dan aku pun larut... tapi apa??... sebenarnya itu semua ENGKAU yang mengizinkan...
KETIKA aku tersungkur jatuh dan terinjak-injak oleh makhluk-makhluk yang melewatiku...sampai akhirnya aku sadar bahwa aku telah berada 10 meter di bawah permukaan... apa yang aku ingat?? ENGKAU... hanya ENGKAU yang terlintas... dan aku mengharapkan bantuanmu... hingga akhirnya aku bisa muncul kembali di permukaan dan aku pun lupa (ENGKAU)...
KETIKA aku dan ENGKAU sudah tak lagi menyapa...
rawatlah semuanya dengan kasihmu...
walaupun aku lupa...
mungkin tidak dengan ENGKAU...tuhan
Mereka Pikir Dinan Selalu Riang..
by Unknown , under
Matahari sore mulai habis tertelan rotasi bumi. Sendiri. Diam. Sepi. Hanya bunyi gesekan gorden yang sesekali bergerak karena angin dari luar jendela yang lupa di tutup.
Dinan tersender di tembok kamarnya. Duduk. Lemas. Terkulai. Tak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang telah menyedot kegembiraan dalam hidupnya.
Ouh ! ini bukan Dinan...BUKAN !!!
Dinan tak seperti ini.......TIDAK MUNGKIN !!!
Dinan itu selalu CERIA ! PENGHIBUR ! PELAWAK ! BADUT !!! dan selalu Tertawa... Ya ! TERTAWA.
Bahkan di saat dia bercerita sesuatu yang seharusnya sedih mengenai dirinya,
Dinan tetap bisa menceritakannya sambil tersenyum dan membuat orang yang mendengarnya malah ikut tertawa !!! hahaha...Dinaaaaan...Dinan...Ckckckck...
Dinan bergerak. Berdiri. Berjalan menuju sebuah tas ransel yang berada di depannya. Sedikit rusuh. Dinan mengambil sebuah buku tulis dari dalam tas. Membuka. Merobek secarik kertas dari buku itu. Ia pun pergi menuju meja belajar. Mengambil pulpen yang telah tergeletak di meja sedari tadi. Lalu Menulis.
“MEREKA HANYA HIASAN !!!!”
Tangan Dinan terhenti seraya melepaskan pulpen di tangannya. Tak ada lagi gairah untuk melanjutkan tulisan itu. Dinan tertunduk. Lesu. Belum ada satu sinar yang menerangi kamarnya. Gelap. Malam telah turun dan membius sisa-sisa matahari.
Euh..Tulisan apa itu ?! Apa maksudnya?! MEREKA ?!! HIASAN ?!! siapa ?!! SIAPA?!!...
DINAaaann !!!!
Dinan kembali menuju tembok tempat ia bersandar tadi dan sedikit tersandung kasur yang telah terkamuflase dalam gelap.
Dinan pun membalikkan badannya, menyerah terhadap tembok yang saat ini dibelakanginya. Badannya menggelincir turun tanpa daya. Dinan masih diam. Lemah. Tak terlihat setitik aura ceria pada dirinya. Sesekali ia memejamkan mata dengan waktu yang agak lumayan lama. Seakan ia menerawang.
MEREKA senang tertawa
MEREKA senang mendengarkanku
MEREKA suka dengan kelakuan bodohku
MEREKA suka aku hibur
MEREKA senang...
MEREKA suka...
MEREKA Berpikir ??!!!
MEREKA pikir aku SELALU riang !!!
TIDAK !!!
TIDAK dengan kelakuan kalian yang pengecut..
TIDAK dengan segala dalih andalan kalian..
TIDAK dengan kelakuan pelit kalian..
TIDAK dengan zona nyaman kalian..
TIDAK dengan kelakuan kalian yang sering mengandalkan orang lain..
TIDAK dengan segala kelakuan kalian yang memuakkan..
MEREKA tak pernah merasa..
MEREKA HANYA HIASAN !!
"Huh..." Napas Dinan terdengar keras.
Dinan mulai membuka matanya. Keadaan masih gelap. Tak terasa ternyata tadi ia tertidur. Keringat pun membasahi tubuhnya. Gerah. Hawa panas memang menyelimuti ruangan kamarnya sejak sore. Dinan tak peduli.
Dinan mulai berdiri. Meraba-raba tembok di belakangnya sembari mencari stop kontak lampu kamarnya.
"ceklek" lampu kamar menyala.
Dinan mengernyitkan matanya. Silau. Sedikit demi sedikit ia mulai membuka matanya, menjaga dirinya tetap fokus.
Tanpa sengaja... " Gusraaaaak...". Dinan menyenggol rak buku di sebelahnya.
Dinan tak acuh. Saat ia ingin berjalan keluar kamar, tiba-tiba ia melihat sebuah buku berada di lantai dengan posisi terbuka. Kemudian Dinan mengambil buku itu dan ia membaca sebuah tulisan:
" Menangis adalah salah satu anugrah tuhan
kepada umatnya agar bisa menghargai perasaannya sendiri"
"Clak..." Sebutir air menetes tepat pada buku yang sedang Dinan pegang.
Bukan keringat, melainkan air mata Dinan sendiri...
Saya dan (yang) Menggantikannya..
by Unknown , under
Pagi itu entah kenapa seperti ada sesuatu yang merujuk saya pergi ke masjid untuk melakukan sholat subuh.
Ketika saya membuka pagar rumah, sekilas saya lihat dua cahaya kecil berusaha menangkap setiap gerakan tubuh ini. Saya tak ambil pusing. Ini masih gelap. Tak heran bila cahaya berpantulan. Saya pun bergegas menuju masjid.
Di tengah jalan, seok-seok sendal jepit saya yang bersetubuh dengan aspal seperti mengeluarkan gema. Sesaat saya berhenti. Suara desahan sandal masih terdengar. Saya menoleh kebelakang. Tampak sekelebat bayang seorang laki-laki yang mengekor sambil memanggul sesuatu. Gerak kaki semakin saya percepat. Bunyi gesekan speaker masjid pertanda muadzin membisikkan ikhamah mulai terasa. Akhirnya saya pun sampai masjid saat imam mengucap takbir rakaat pertama.
Dengan membetulkan sarung sedikit dan menggulung bagian tangan kemeja. Saya langsung memulai syaf ketiga. Tak lama setelah kami serempak meneriakkan “Aaaaaamiiiiin.” Sebagai pucuk surat al-fatihah. Tiba-tiba muncul sesosok laki-laki tua di samping saya. Kucel. Tengik. Lusuh dengan celana pantalon yang di biarkan tergulung sebelah sampai mata kaki.
Shalat subuh selesai. Saya meregang. Tapi tidak dengan jamaah yang berada di masjid itu. Mereka terlalu patuh. Seperti tahanan yang siap di eksekusi mati. Diam. Hening. Mendangak seakan peluru siap masuki jidatnya. Ini bulan puasa ! dan peluru itu hanya kultum subuh dari si khatib.
Saya bosan. Tak duduk lama. Jenuh diri saya mendengar kultum. Sudah cukup kultum saat menjelang maghrib, taraweh, dan sahur untuk saya. Sebelum angkat kaki, sempat saya melihat tubuh meringkuk kumal di sebelah. Dan saya pun melepas senyuman basi ke mukanya.
Sesampai di luar, lagi-lagi entah kenapa. Saya tak ingin langsung pergi. Saya malah asik membalik-balikan sandal, seperti orang yang sedang membuat jagung bakar.
Tak lama kemudian, laki-laki tua kucel. Tengik. Lusuh itu pun keluar dari masjid. Membalas tatapan saya dengan senyum sumringah paling segar yang saya lihat di pagi yang gelap itu. Sesekali saya perhatikan dirinya bingung. Celingak-celinguk. Ouh... ternyata sandalnya yang sebelah, terselip di pantat saya. Dan tak sadar telah mengotori sarung yang saya pakai. Aaarrrgh !
“Maaf dek, itu sendal saya...” Suaranya lemah terdengar sayup di telinga saya. “ Bagaimana pak...?” hardik saya meminta penegasan suara. “ Maaf, itu sendal saya di pantat ade...” Masih konsisten dengan suara lembutnya. “Oooh iya maaf... ini pak..” lanjut saya sambil memberi sandalnya yang mulai hangat karena pantat.
Melihat dirinya sebentar. Saya langsung menoleh ke jalanan. Tiba-tiba suara lemah dari arah samping mulai mencolek gendang telinga saya. “ Ga dengerin kultumnya dek...?” Coba lelaki tua itu berkomunikasi dengan saya sambil membereskan bawaanya yang lebih mirip seperti bakul. “Engga pak...” jawab saya sambil menikmati udara pagi yang mulai terkontaminasi dengan bau tubuh si lelaki tua itu.
Sebenarnya dalam keseharian, saya bukanlah seseorang yang ketus bila bertemu dengan orang baru, tak peduli apa latar belakangnya. Tapi rutinitas akhir-akhir ini, serta pikiran yang agak kacau, sepertinya berhasil hinggap di tubuh. Dan tai kucinglah itu semua !!! sukses menguliti keramahan saya.
Dengan sesekali melihat muka si bapak yang penuh senyum, saya pun melunak. Untuk kedua kalinya saya menyebut sebenarnya. Saya itu mempunyai ketertarikan tersendiri bila berbicara dengan laki-laki yang lebih tua atau biasa kita sebut bapak-bapak. Mungkin karena latar belakang saya yang tumbuh besar tanpa melihat kewibawaan seorang bapak beserta cerita-cerita hebat di kepalanya.
“Bapak darimana..?” Tanya saya memulai kembali percakapan. “ Dari Rangkas dek...” Jawabnya penuh senyum. “ Rangkasbitung pak..?” tanya saya kembali heran ketika ia meyebut asalnya yang lumayan jauh. “iya dek..ini..uhm...bapak kemarin abis jualan telor asin, trus pas mo pulang ternyata bapak keabisan kereta, yaudah.. jadi aja tadi nunggu istirahat di depan rumah orang, trus...pas subuh.. bapak ngikutin orang yang ke mesjid aja...hehe..” Jawab si bapak disertai senyuman-senyuman kecil yang ikhlas. Ouh ternyata bayangan yang mengikuti saya ke mesjid tadi, si bapak ini (besit saya dalam hati). “Bapak udah sahur..?” tanya saya menyambung jawaban si bapak barusan. “ Alhamdulillah udah dek... tadi pake telor asin yang bapak jual...sama nasi sisa semalem...” jawab si bapak dengan senyuman. “Adek lagi nunggu...” tanya si bapak setelah hening sesaat. “Engga pak..” jawab saya cepat. “ Lah terus ngapain...?” tanya dia kembali kepada saya. Mendengar pertanyaan itu saya hanya menggeleng kecil sembari memberi senyuman kepadanya.
Tiba-tiba, si bapak lusuh itu kembali mengoceh. “ Adek mo tau sesuatu...?” tanya si bapak kepada saya dengan nada yang datar. “ Maksudnya pak..?” Jawab saya heran dengan pertanyaannya itu. “ Coba adek merem...” Perintah si bapak terhadap saya. Entah kenapa, saya pun langsung menurut pada perintah si bapak itu. Dan suaranya terdengar berbisik kepada saya “ Coba bayangin satu sosok di hidup adek...” Tak perlu lama, saya pun langsung membuka mata ingin menanyakan maksud si bapak itu, tetapi saat saya menoleh ke mukanya, dia langsung memotong “ itu ayah kamu ya...?”. Sontak saya pun diam. Berpikir. Jawaban si bapak benar !!. Belum sempat saya menjawab, si bapak mulai bertanya kembali. “ Kamu kangen ya sama ayah kamu...?”, tanya dia. Akhirnya saya mulai bersuara. Dengan pelan saya bertanya “kok bapak tau...?”. Dia pun menjawab datar dengan senyuman yang masih setia bertengger di mukanya. “Kangen kamu itu pasti ada alesannya kok... Ga perlu khawatir, sosok ayah kamu itu emang ga bisa di gantiin...tapi secara ga sadar, kamu sudah ketemu orang-orang yang ngegantiin ayah kamu...”. saya pun semakin heran dengan perkataan si bapak tadi dan bertanya. “Maksudnya apa pak?”. Dengan bijaknya dia menjawab “kadang allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang bisa menggantikan peran orang lain dan biasanya kita gak sadar, karena kehadiran mereka gak setiap hari ada di kehidupan kamu...”. Mendengar perkataan si bapak yang berubah menjadi bijak. Saya pun menjadi menerawang. Memang, pagi itu saya sedang tak ingin banyak omong. Tak ingin berpikir keras. Hanya nikmati udara pagi. Sampai-sampai saya pun menjadi tak sekritis biasanya. Saya tak peduli darimana dia bisa menebak apa yang ada di pikiran saya. Yang pasti, perkataan si bapak tadi ada benarnya.
Suara si bapak kembali memecah kebengongan yang sedang saya alami. “Dek..kyanya bapak harus berangkat ke stasiun.. takut ketinggalan kereta lagi..hehe”. Mendengar perkataan si bapak tadi. Saya pun langsung reflek bertanya dan mencoba menawarkan sedikit uang kepada si bapak. “bapak ada ongkosnya?...ini?” Saya berani bertanya seperti itu, karena saya lihat masih ada sedikit uang di kantung kemeja, yang tadinya saya bawa untuk mengisi kencleng masjid, namun saya lupa hingga uang itu masih bersemayam di kemeja saya. Pikir saya mungkin uang ini lebih bermanfaat untuk si bapak.
Dengan tangkas dan tergesa-gesa, si bapak menjawab “ada dek, gak usah...ga apa-apa...makasih dek...” “Bener pak..?” lanjut saya mencoba kembali menawarkan uang itu. Si bapak pun tetap menolak. Tetapi saya ingin uang ini menjadi miliknya. Akhirnya saya berusaha menemaninya sampai depan mesjid dan menyelipkan uang itu di bakul telor asinnya tanpa ia sadari.
Sampai di depan mesjid, kami pun berpisah. Dia mengambil jalan ke kanan dan saya ke kiri menuju kediaman orang tua saya (rumah). “Mari dek...saya duluan..Assalamualaikum...”. ucap si bapak sambil melangkahkan kakinya menjauhi diri saya dan masjid. “Iya pak...walaikumsalam...hati-hati” Jawab saya kepada si bapak.
Saya pun mulai mengahadapkan badan ke kiri, berjalan menuju rumah yang siap menerkam kantuk yang mulai menggelendoti mata saya. Selang 8 langkah meninggalkan masjid, saya berusaha membalik badan, ingin melihat si bapak tadi. AH SIAL !! DIA HILANG !!!. Pikiran macam-macam mulai menghampiri saya di gelapnya pagi. Tapi saya tak mau lama-lama ambil pusing. Ini bulan puasa, katanya setan sedang cek in di hotel prodeo alam gaib sana. Tak peduli bapak yang tadi itu SETAN atau MANUSIA, tak peduli dia GAIB atau NYATA, tak peduli dia MALAIKAT atau IBLIS. Yang pasti dia sudah membuat saya memasuki pikiran jelek yang terus menghantui hidup saya. Dan saya yakin proses yang saya alami ini menuju hal positif.
Dalam perjalanan ke rumah, saya mulai meresapi kata-kata si bapak tadi. “ Ya ! saya memang kangen dengan papap (panggilan kepada bapak saya), kadang saya suka iri ketika mendengar cerita teman saya yang mendapat petuah handal dari bapaknya, cerita-cerita sakti ayahnya, komentar-komentar pedas ayahnya...Lantas saya ?!!” . Pikiran negatif mulai tumbuh kembali di kepala saya.
Saya menjadi mengingat-ingat. Siapa saja sosok yang telah menggantikan papap?. Sekilas sosok bapak tua mulai hadir di memori saya. Pak Nanang. Beliau mulai terlupakan oleh saya tahun ini. Dimana dua tahun yang lalu saya pernah menumpang di rumahnya selama 2 bulan sewaktu KKN. Dan ia selalu kuat membagi cerita kepada kami hingga larut malam. Mungkin saat-saat itu yang tak pernah saya alami sebelumnya bersama seorang ayah. Hingga akhirnya pada saat saya pulang pun, baru kali itu saya merasa ada seseorang yang masuk hitungan baru kenal, bisa menangis terseguk-seguk sambil memeluk dan membisikkan harapannya ke telinga saya. Ya dia sosok yang menggantikan, setiap orang tua pasti mempunyai harapan ke anaknya. Pada tahun sebelumnya beliau masih sering memantau keadaan saya, tapi tahun ini beliau mulai hilang. Mungkin ini salah saya, salah kami, yang tak pernah merespon baik setiap perhatiannya. Dan ini teguran untuk kembali menanyakan kabarnya.
Sosok kedua yang terlintas di pikiran saya adalah seorang bapak-bapak yang nyeleneh. Uwa Lukman. Dirinya selalu blak-blakan dalam memberi nasihat, tapi itu kenyataan dan sesuatu yang di bicarakan olehnya pasti ada benarnya.
Satu per satu, Sosok-sosok lain pun mulai bermunculuan di kepala saya. Mereka memang sosok yang menggantikan, mungkin juga termasuk bapak tadi.
Sepanjang jalan menuju rumah, saya terus memikirkan orang-orang yang menggantikan itu. Saya masih beruntung bisa dipertemukan orang-orang seperti mereka, mungkin mereka tidak hadir setiap saat, tapi mereka tak terlupakan, walau kadang saya tak sadar.
Bila saat ini kalian masih bisa melihat kehadiran seorang ayah...
Jangan sia-siakan dirinya..
Jika kau sempat..
Buatlah dirinya tersenyum kembali seperti saat ia melihatmu terlahir dengan sehat di dunia ini dan bahagiakanlah dirinya seperti saat pertama kali kau panggil namanya setelah ia sibuk dengan rutinitas kerjanya.
dan Jika kau mampu..
Bila tiba saatnya nanti, bisikanlah suaramu dalam adzan di telinganya, sama seperti ia mengantarmu ketika muncul di kehidupan ini.
+___+
