Latest Entries

Sedih sebenarnya..

Senin, 08 Maret 2010 by Unknown , under


Waktu itu Iman sedang menginap di rumah Hesti, kakak keduanya. Tiba-tiba di sela obrolan sore ibu berkata “enak juga ya man… kita jadi kaya liburan disini, ibu rasanya tenang.” Iman rasanya kaget mendengar ibu berbicara seperti itu. Ya memang mungkin ibu butuh hiburan dengan bertemu keponakanku yang pintar berbicara itu. Tapi ini kan bukan rumah kita, aku pikir seharusnya tenang itu saat kita berada di rumah sendiri. Dimana segala hal yang kita miliki itu bisa kita syukuri, sehingga semuanya bisa buat kita jadi tenang. Harusnya memang begitu.

Pernah dulu, saat Iman baru bangun tidur dengan siangnya, ibu bertanya dengan lembut. “nak… bagaimana klo rumah kita ini dijual?”. Iman heran dengan pemikiran ibu. “Lalu kita mau tinggal dimana BU?”. Ibu tetap tenang dengan pertanyaan balikan dari Iman yang setengah kaget nadanya. “kita bisa tinggal di rumah Hesti, lagipula rumah kakakmu itu juga lumayan untuk bisa kita tempati, masih banyak ruang yang kosong, cukup untuk kita berdua. Ibu juga nanti bisa sambil bantu-bantu Hesti, ngurus ponakanmu. Toh, Sukma akan pindah dari sini, menempati rumah barunya dan kita hanya berdua…bagaimana menurutmu?” Iman cenderung aneh dengan pemikiran ibunya. Sukma, kakak pertamanya yang baru berkeluarga memang saat ini tinggal bersama Iman dan Ibunya. Mereka memang sedang membangun rumah dan sebentar lagi selesai. Tapi kenapa rumah jadi ikut dikorbankan?. Harusnya memang begitu.

“maaf…” Iman mencoba menjawab dengan tenang. “Iman kurang setuju dengan pikiran ibu yang ingin menjual rumah.. bagaimana juga menurut Iman.. rumah itu ibarat harga diri bila dikaitkan dengan pikiran ibu yang barusan. Iman ngeliatnya, kita bakalan hidup numpang. Meski rumah kecil dan pas-pasan kalo semua anak-cucu ibu pada ngumpul, tapi ini kan rumah kita bu… ini milik kita. Iman tau sekarang waktunya Iman buat cari-cari kerjaan dan bagaimana pun nanti Iman yang bakal hidup bareng ibu serta mbiayai rumah ini. Tapi maaf bu sekali lagi…Iman kurang setuju dengan pikiran ibu.” Iman tetap mencoba mengatur nafas, menahan rasa dongkolnya dan ibu mencoba bicara. “Ini bukan masalah kamu yang belum dapet-dapet kerja man, ibu tau kamu sudah terlalu lama menganggur dan jadi agak sensitif, tapi ibu juga tau kerjaan itu rejeki… ibu rasa, ini hanya efisiensi saja man…”. Harusnya memang begitu.

Iman tetap mencoba menatap wajah ibunya dan berkata. “Bu… masalahnya bukan hanya disitu saja, Ibu kan juga punya besan… Lalu apa nanti kata mereka kalo kita tinggal disana. Menumpang. Ngerepotin. Cuman bisa menclok di harta anak mereka.” Iman tersengal sedikit menahan liur di tenggorokannya dan lamat-lamat mulai berbicara kembali. “Iman rasa cukup bu…cukup. Cukup untuk bisa hidup seperti ini. Iman bangga punya ibu yang bisa bertahan meski sendiri dan besarin kami bertiga. Anak-anak ibu…. Sampai seperti ini. Sudah kenyang bu rasanya ngerasain kata orang tentang kita yang ga enak, sejak ayah meninggal. Kita ga perlu bergantung bu. Memang klo tinggal disana, ibu  lebih dekat dengan Radit. Ibu bisa bantu Hesti agar dia kerja lagi. Tapi saya mohon bu, jangan sampai rumah ini dijual. Ini milik kita. Harga diri kita, ibu…saya…dan juga keluarga. Maafin Iman bu, mohon ibu pikirkan kembali.” Harusnya memang begitu.

“baik…” Ibu menjawab singkat dan pergi.

Sedih sebenarnya… saat konstruksi sosial berubah memandang harta menjadi dewa. Strata yang ada di masyarakat harus berubah saat harta lagi-lagi tunjukkan kuasa. Seakan akhlak menjadi nomer ke-sekian dari kehidupan. Kita tau manusia butuh kemapanan. Tapi sejauh apa dan bagaimana kita memandang arti kemapanan tersebut. Apa mapan hanya harta? Lalu bagaimana dengan hati?
Andai semua manusia memandang manusia sebagai manusia, dan punya hak yang sama.

Tuhan mencipta manusia…
Manusia menjadi pintar…
Manusia mencipta uang…
Uang menjadi keharusan…dan
Uang membuat manusia seakan melebihi Tuhan..

TERIMA KASIH untuk hidup yang sederhana

Wanita Raga Berbayar

by Unknown , under


 


Maaf..sibuk.
kerjaan saya lagi numpuk.
Saya memang suka dengan pekerjaan ini.

Kenapa?
Saya sudah mapan? Muda? Sukses?
Lalu mau apa?

Ouh maksudnya nikah…
Berkeluarga?
Calon aja belum ada..

Maaf
Saya cuma butuh kerja
Ini kan kota besar, Metropolitan
Soal uang, jabatan, kekuasaan
Mereka sih tinggal ngikut aja…

Sex?
Ah ga masalah
Masih banyak Wanita Raga berbayar !!!! 
hahahaha..

Kita mulai dengan Melihat..

Selasa, 24 November 2009 by Unknown , under


“Lo gak akan pernah sadar, kalo lo belom ngerasa kehilangan !!!”

Sebuah petikan kalimat yang diucapkan Ipin (udjo) dalam film Mengejar Matahari.

Ya, kita emang ga akan pernah sadar saat kita belom ngerasa kehilangan. Entah itu barang, hewan maupun orang-orang sekitar kita yang pernah berada atau berguna untuk segala kelangsungan yang sedang kita jalani. Kadang kita tak acuh, cuek, seenaknya, bahkan menghina saat “sesuatu” itu masih ada. Kita emang ga pernah puas, seperti samudra yang terus menuntut sungai untuk mengalirkan air ke dirinya agar tetap menjadi samudra. Tapi apa daya samudra bila sungai tak ada?! Apa mungkin sungai tak ada? Saya rasa tidak..saya cenderung asal.

Sesaat perlu berpikir..merenung bagai gunung dan bergerak bagai ombak.

Apa hebatnya kita hingga tak ambil pusing, bahkan cenderung tak peduli pada hal-hal yang sebenarnya mempengaruhi diri kita secara tak sadar. Apa kita abadi untuk selalu angkuh terhadap hal sekeliling kita. Jawabnya pasti tidak, karena suatu saat kita pasti hilang. Apa ada orang yang sadar saat kita hilang. Kita tak tau. Bukan kuasa kita menjawab. Tapi ada baiknya kita acuh pada mereka. Karena sebenarnya kita pun butuh padanya. Dan setelah mereka hilang, biasanya kita baru sadar, terperanjat, bahkan menyesal…lalu mulai me-rewind segala memori. Satu per satu benang kenangan di kepala mulai muncul keluar berubah menjadi sorban, mungkin juga sampai mengenai mata dan mengeluarkan liquidnya. Bisa jadi bahagia, bisa jadi menyesal. Kita tak harus lunglai. Ini cuma kenangan.

Mungkin kita tak sadar…

Hewan peliharaan pertama kita yang tragis, meski pasti buat kita bahagia saat pertama melihatnya..

Benda-benda tak penting, walau sebenarnya pendukung kinerja kalian..

Bahkan…

Orang-orang yang tak di anggap penting karena perangainya, meski mereka pernah membantu..

Teman-teman yang sekedar lalu lalang, walau peranannya kadang menghibur..

Sahabat-sahabat setia, yang bisa menjadi aneh sewaktu-waktu..

Saudara kandung, yang selalu mengandalkan..

Mungkin orang tua, yang telah jauh pergi meninggalkanmu…

Kita perlu melihat dan penuhi setengah hati kita untuknya.. tak perlu serakah dengan hatimu.. karena kita tak akan pernah utuh memiliki jiwa ini..

Kita, Kamu, Aku, Semua.. milik-NYA… dan tak ada yang kekal..




Saya gak punya sayap, yang saya punya hanya sepasang sepatu converse butut !!!

Senin, 23 November 2009 by Unknown , under

“DUNIA EMANG GAK ADIL !!! “

mungkin itu yang terlintas dari mulut seorang kawan saat dirinya melihat hasil ujian CPNS yang udah di ikutinnya. Bayangin aja… dua bangku selang di depan dia yang jelas-jelas gak ada orangnya pas ujian, tiba2 nomornya muncul di hasil pengumuman PNS yang diterima.

Saya sih ga heran. Ini Indonesia, eh tapi ga cuman Indonesia aj kyanya, mungkin di negara lain jg msh ada praktek yang sama. Yaaa…sama-sama biadab lah. Emang sih cari kerja ga gampang, tapi mo gimana dong.. lha wong negara kita gampangan tho… bikin SIM asal ada duit dan memo, gampang. Bikin Paspor asal ada duit dan backingan, gampang. Bikin KTP asal ada duit dan duit , gampang. Bikin ijin ini-itu plintat-plintut asal ada duit dan kekuasaan, gampang. Bikin anak?! Paling gampang kyanya..huhu

Ya saya anggep aja orang-orang yang gampang ngapa-ngapain itu merupakan mereka yang hidupnya biasa pake sayap. Kenapa sayap? Analogi saya agak maksa ya? Ya gak apa-apa deh, sekali kali. Saya kan bukan Samuel Mulia yang tulisannya selalu nongol di kompas saban hari minggu sambil nyentil-nyentil orang laen dan diri ndiri..hehe.. Piss Oom.

Oke, kenapa sayap?! Ya simple aja.. mereka kyanya bisa terbang kesana kemari gitu tanpa harus hadepin kemacetan (birokrasi), mereka bisa ngambil sesuatu yang tinggi juga gampang (jabatan), ya.. itu semua karena mereka punya sayap (kekuasaan) dan selalu dapet angin bagus (duit). Tulisan saya kya orang iri ya?! Emang !! sapa juga yang ga mao dapet yang gampangan hari gini..weeek !

Tapi mo gimana lagi.. saya gak punya sayap, yang saya punya cuman sepatu converse butut. Tapi saya seneng kok biar cuman pake sepatu converse butut *crossfinger*. Ya lagian mo gimana lagi, emang sekarang cuman sepatu ini yang saya punya. Orang tua saya juga ga ngajarin buat terbang, jadi ngapain saya butuh sayap?! Kalo pun di kasih sayap, saya takut. Saya ga bisa makenya. Biarin deh pake sepatu butut dulu. Biar butut tapi kan saya nyaman pakenya..ga harus takut jatoh..ga harus takut ketinggian..yang penting nyaman. Yak nyaman ! comfortable !!!

Hmmm…saya masih bersyukur pake sepatu butut. Biar butut juga masih alas kaki, biar butut juga nyaman makenya, justru asik kan..butut tapi free to move..ugh !!. Tapi saya salut sama mereka yang nyeker, beuh… kuat, tegas, perih, lecet, kapalan. Semuanya sudah biasa.

Analogi otak saya yang empuk ini lagi-lagi ingin mencoba perumpamaan. Klo hidup ibarat jalanan dan kita ga pake kendaraan. Kaki itu jadi simbol perjuangan, ada yang nyeker (hidup mereka kuat, tahan segala cobaan, tapi mereka tegar, hingga suatu saat mereka pake sandal atau sepatu), ada yang pake sandal (hidup mereka termasuk menengah ke bawah, ada yang udah ngerasa cukup dengan apa yang di punya, tapi ada juga yang pengen pake sepatu), ada yang pake sepatu butut (hidup mereka masih penuh perjuangan, tapi mereka bisa terjebak di comfort zone juga, karena biasanya sepatu-sepatu butut itu nyaman untuk pemakainya), ada yang pake sepatu bagus dan bermerk mahal (hidup mereka bisa jadi enak, keliatan keren, tapi belum tentu nyaman/bahagia). Yah ini sih bisa-bisanya saya aja..toh semuanya klo nginjek tai tetep bau kan?! Hehe.

Tapi klo dari semua analogi yang saya buat itu..saya sepertinya masih beruntung berada pada kasta sepatu butut. Ya, saya pakai converse butut. Saya masih muda, berjuang. Biar peluh darah ngucur dapetin sesuatu untuk perjuangin ego yang masih terang membakar setiap aliran darah di pembuluh ini. Biar gemulai legok badan memandu dinamis menghindar sisi konservatif. Biar bentuknya sudah butut, kucel, belel namun dinamis, tegas, dan berkarakter. Kami melawan..kami belajar menaklukan tinggi..kami belajar melompat sedikit demi sedikit menggapai asa..kami jatuh..luka..kami tak menyerah.

Saya tak punya sayap untuk terbang, yang saya punya hanya sepatu converse butut untuk terus berpijak pada bumi dan merasakan setiap tumpuannya dalam menggapai asa.


I love you belel..meski baru-baru ini kamu di laundry trus ga belel lagi, tapi maksud yang ngelaundry baek kok..ikhlasin aja ya daki-daki kamu yang luntur itu.. maaf 

Hey MOVE ON...You In-Fashion !!!

Senin, 19 Oktober 2009 by Unknown , under

 

Malam. Bus transjakarta koridor 8. Saya sedang berbincang hebat dengan partner terbaik dalam 2 bulan terakhir ini. Jarak kami tak lebih dari 7cm. Kami berdiri. Tempat duduk sudah penuh kawan, ini Jakarta, kami berdua tak ingin mati percuma tergilas kerasnya kota ini, hanya untuk mengemis tempat duduk dengan menunggu. JAKARTA-menunggu-sabar-diam-MATI TERINJAK !!!-tutup saja mayatnya dengan koran....huh. Braaak !! tiba-tiba partner saya berkata “move on”. Menarik !. Move on???? Untuk saya?! Bukan !! untuk dirinya ?! bukan juga...lalu buat siapa?!. Dia hanya mencoba meniru seseorang. Tak terlalu penting.

Move on. Mungkin kita bakal ngomong ini saat sedang terjerembab hingga terasa ilusi kehadiran izrail mondar mandir iseng nemenin kita tiap hari. Bagus !! klo lo bisa ngomong gitu !!. Prakteknya ?! You decide !!!. Ini ibarat analogi “hidup seperti roda yang berputar.” Sampe kapan kita bisa liat rodanya muter klo cuman diem. Tong ! roda muter juga klo ada yang gerakin. Kita butuh mesin. Gaya pegas. Atau apalah yang fungsinya bikin jalan. Jalan ?! move on dong.. iye.

Balik lagi ke si move on. Waktu temen lo nyesel sama kelakuannya, apa kata-kata yang pantes buat lo kasi tau ke dia? Jawabnya MOVE ON. Waktu temen lo terkulai lemes gara-gara di tinggal kawin mantannya, Apa kata-kata yang pantes buat dia? Jawabnya MOVE ON. Oke, itu untuk orang laen, bangsa kita emang pandai memberi nasehat, maklum budaya kita paguyuban, kaum sosialita aja bisa hebat mekar tercipta, sekarang giliran lo !!

Coba resapi. Diam. Relaksasi. Munculkan diri anda yang kemarin. Rasuki alamnya. Apa kita pernah berkata move on untuk diri sendiri ?! sesekali menulisnya mungkin?! Di status FB? Twitter? Buku harian? Buku resep? Buku catetan kuliah? Jidat ?!!!. Sekarang, coba ingat kembali... seberapa sering anda mengucapkan atau menulis kata move on untuk diri anda?! 3 kali sehari setelah makan? Mungkin 3 kali dalam seminggu, setiap senin-rabu-jumat jam 16.00 di ruang 2.1?! akh !! program move on macam apa ini. Bisa terjadwal. Pasti sering kan?!

Setiap orang pasti ingin perubahan, tentunya dalam hal positif. Bagaimana caranya ?! Move on jawabnya. Tapi saya sendiri sebenarnya tak terlalu peduli dengan kata-kata itu. Emang... seperti kata lembaran berwarna cerah dalam buku the secret, katanya klo kita mao sesuatu, ya kita harus omongin hal itu, klo perlu kita tulis di tempat yang sering kita temuin. Tapi sekarang sih gini aja, orang laen bisa liat perubahan signifikan dari kita ga? setelah tiap hari ombradol sompralno (red. sompral) ngomong move on?!. Ya menurut saya pribadi secara serius, biasanya orang lain itu hanya peduli sama hasil, untuk prosesnya kita yang nikmatin. Entah itu pahit, getir, manis, hambar, jatoh, berdarah, korengan, borokan. Ya itu proses di dalem tujuan kita.

“Dengkul kalo semakin sering jatoh jadi kapalan kan? Klo dengkul udah kapalan, pas jatoh juga udah ga berasa lagi.”

Ya jadi buat apa kita sering-sering ngomong/nulis kata move on. Semakin sering lo keluarin kata move on tanpa bukti yang cepat-signifikan sampe bisa di akui orang lain, dan bertahan lama. Menurut gw kata move on ga lebih dari atribut yang ada di hidup lo. Seperti : Kacamata hitam rayban yang hype di kala siang maupun malam, kaos metrox, Converse jack purcell, Blackberry, iPhone, Crocs, Peter says denim, Prada, LV, Mango, Sepatu dragonfly?!. Intinya ?! fashion !!!. Ya itu Cuma fashion. Sama aja klo lo semakin sering ngomong move on, apa bedanya sama merk terkenal yang nempel di badan lo saat bergerak seperti sedang menantang hidup. HEY MOVE ON !!! YOU IN-FASHION !!!...what ?! thats in no-fashion ?! hell !!!

Klo gw sih daripada kata move on muncul terus-terusan di bibir lo. Mending di telen, terus lo kunyah ibarat makanan bergizi yang emang bener bisa bikin lo bergerak,berpikir bebas tiap hari. Kita butuh gizinya bukan displaynya. *sinergikan*


Cara turunnya Gimana yaa... ???!

Selasa, 01 September 2009 by Unknown , under

Gw Gori… Mereka biasa memanggil gw Gori. Panggilan ini gw dapet bukan karena semata-mata tampilan gw yang memang mirip gorilla (seperti yang mereka bilang). Nama Gori sebenernya hanya setitik hasil praktek bullying yang terjadi di pendidikan Negara kita saat ini. Bullying ??!! Ya !... Bacot senior yang suka ngomong ngasal waktu OSPEK emang bukan sesuatu hal yang gampang buat di bendung. Celetukan mereka yang kadang-kadang sukses bikin guratan di jidat gw emang dah ga bisa di hindarin lagi.

Awalnya mereka memanggil gw “Bayi Gorilla”, hanya satu oknum senior yang memanggil gw dengan cara yang beda. Pelafalan sebutan “Bayi Gorilla” dia treakin ala abang-abang asongan yang sering lo temuin di terminal-terminal atau bis ibukota. Cara dia manggil gw dengan treakan “Bayi Goro..rilla..Goro..rilla..rilla..rilla..rilla !!!” berhasil ngebuat orang-orang di sekitar gw tertawa, mesem-mesem, cekikikan. Termasuk Maba2 yang saat itu senasib kaya gw…TERTINDAS !!!

Lama-lama sebutan “ Bayi Goro..rilla..” mungkin terlalu kepanjangan buat mereka sebut, dan mereka pun menyingkat nama panggilan itu dengan sebutan “GORI.” Oke… Label ini bukan sesuatu hal yang gampang buat langsung gw terima. Gw sadar ini OSPEK, suatu acara kampus yang bentuknya kolosal dan dengan adanya satu oknum senior pembawa bencana itu. Nama gw sekarang jadi berubah total dari RM. Aryo Suryolangit menjadi Gori. Yaaaa…seenggaknya hikmah yang bisa gw ambil dari nama baru itu, gw jadi tenar di kalangan senior maupun angkatan gw sendiri. Hahaha….KENCUR !!! (masih menyimpan dendam)

Sekarang gw mulai terbiasa dengan panggilan Gori…dan ini tahun pertama gw kuliah di Malang… gw tetep punya masalah ??!! Ya ! gw hidup, pasti bermasalah. Bukan masalah keuangan yang biasa di derita mahasiswa rantau, Tapi masalah ini terus muncul akibat trauma masa kecil gw yang pernah jatuh di tangga penyebrangan. Masalah gw…climacophobia atau biasa kita sebut PHOBIA TANGGA.

“Gor !!!” ( tiba-tiba suara keras memanggil dengan logat batak)
Itu Mordar, dia salah satu perantau dari tanah batak yang kuliah satu jurusan bareng gw.
“Wei dar ! darimana lo?!” (ekspresi muka gori sedikit aneh)
Gori sadar saat ini dirinya menjadi sorotan orang-orang di sekitarnya. Mordar memang mempunyai suara oktan tinggi hingga bisa memecah keramaian di sudut kampus.
Tiba-tiba…
“Praak ! pek kepek kepek…” suara lompatan burung merpati yang terbang menerobos daun-daun kering di pohon membuat keramaian seakan bangun kembali setelah mati suri karena hebatnya suara Mordar.

“Darimana…?? Kau yang kucari-cari dari tadi. Kemana saja ??! bak hilang dimakan closet saja kau !!.” Mordar berbicara sambil memperhatikan wanita-wanita di sekelilingnya. “Dimakan closet ?!!” Gori heran, sambil mengernyitkan dahinya. “Tai dong gw !!!.” Jawab Gori menghentak. “Hahaha…becanda kawan.” Mordar terlihat senang setelah sukses mengejek Gori.

“Eh…kudengar hari ini kao mao ngedate ?!” Tanya Mordar dengan nada nyolotnya.
“dengan siapa?. Wanita fakultas sebelah itu??!”. Mordar memang mempunyai ketertarikan yang berlebihan dengan sesuatu yang menyangkut lawan jenis, jadi ga heran kalo dia bisa memberondong beribu pertanyaan tentang wanita. “iya.” Jawab Gori singkat dan ga terlalu bersemangat dengan pertanyaan-pertanyaan Mordar. Sebenarnya Gori merasa gugup dengan acara ngedatenya kali ini, bukan karena wanita yang ingin di temuinya, tapi karena obat penenang yang biasa dia pakai bila bertemu tangga memang sudah habis.

“Kenapa kau Gor?! Pengen ketemu gebetan kok malah lesu begitu..payah ah !”. Tanya Mordar heran dengan reaksi Gori. “Obat gw abis dar” jawab Gori kembali singkat. Saat Mordar mulai membuka mulut ingin menanggapi jawaban gori, tiba-tiba terdengar suara cw.

“Mordaaaar…gmn ?!...%$##@#%%^” . (suara cw yang terbiasa dengan rumpi, gossip, dan semua hal yang ga bisa bikin mulutnya diem kecuali hanya untuk tidur)
Cw itu Brusel. Dia temen sekelas gw yang emang dah kliatan banget klo seneng sama Mordar. Tapi mordar cuma nganggep Brusel jd fansnya aja. Hahaha.. dasar bandit !

Kemunculan Brusel bikin Gori langsung dicampakkan oleh Mordar. “Dar ! gw cabut dulu ya !” Coba Gori memberi tau Mordar akan keberadaannya, tapi Mordar tetep bicara seru dengan Brusel. “Gw takut telat..dah janjian nih !”. Mordar tetap asik dengan Brusel, respon yang dia berikan pada Gori hanya sekedar telapak tangan yang terbuka, menandakan bahwa Mordar memberikan izin Gori untuk pergi.

Pada tempat berbeda…
Terlihat sosok cw cantik dengan body aduhai memakai baju terusan dipadu sepatu converse menunggu di depan etalase mall. Cw cantik itu Resta. Dia cw yang saat ini janjian untuk kencan sama Gori.

Terdengar napas Gori yang tersengal-sengal. Dirinya langsung menghampiri Resta yang daritadi keliatan dah nunggu. “Resta.. maaf ya telat..hehe” sapa Gori sambil mengatur napas dan jarak tubuhnya dengan Resta akibat keringat yang membanjur. “ga papa kok, baru bentar nunggunya”. Suara Resta merespon Gori dengan renyah. Keduanya pun langsung masuk ke dalam mall. Sebelumnya mereka memang telah sepakat untuk menonton film saat itu. Dan Gori pun baru tersadar bahwa bioskop berada di lantai 3.

Pergolakan di dalam dirinya mulai terasa, Keringat-keringat ketakutan mulai muncul di kulitnya sebesar biji jagung. Resah. Kisruh. Gori tak bisa menghindar ketika escalator berjarak kurang lebih 10 meter di depan mukanya. “Res.. aku ke kamar mandi dulu ya bentar” ucap Gori mengelak untuk nyoba hindari escalator dari tatapan matanya. “nanti aja di atas…ntar keabisan tiket lho !” desak Resta memaksa Gori. “ Aduh maaf Res..aku kebelet banget nih…maaf ya..” Gori langsung pergi buru-buru ninggalin Resta, langkahnya yang cepat memang membuat Gori seakan akan betul-betul kebelet boker. Gori pun terus mempercepat langkahnya, tapi dia bukan pergi menuju kamar mandi, melainkan pergi keluar mall tersebut. Gori mulai tak peduli dengan nasib Resta yang menunggu dia di dalam.
Secara tak sadar, Gori telah jauh meninggalkan mall tersebut. Kecemasan di dirinya berangsur angsur mulai larut dengan hingar bingar suara kendaraan di jalan dan ia pun mulai memperlambat langkahnya. Dalam hati sebenarnya ia kesal dengan keadaan ini. “Anjrooot ! parah banget gw. ah ! trauma sialan ! obat pake acara abis lagi… apa kata Resta nih kalo besok gw ketemu dia. Mati deh gw” Sambil berjalan yang tak jelas arahnya, Gori tiba-tiba baru terpikir…”Aaaargh !! Gila !! kenapa gw ga kepikiran buat naik lift yah !! Goblooook !!!..hahah” Ketika Gori ingin kembali menuju mall yang telah di tinggalkannya, tiba-tiba terdengar suara jeritan ibu-ibu. “Tolooooong !! tas saya di jambret !!!!”. Mendengar teriakan itu, Gori langsung tanggap.

“Braaaak !!” seseorang menabrak Gori dari belakang. Gori hampir tersungkur. Orang itu pun langsung lari kembali tanpa menghiraukan Gori yang hampir jatuh. “woi anjing ! liat-liat dong kalo di trotoar !!” teriak Gori kepada laki-laki yang telah menabraknya. Dirinya pun sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada laki-laki tersebut. Feelingnya mengatakan dialah si penjambret tas. Tanpa pikir panjang, Gori langsung mengejar laki-laki tadi. Keadaan trotoar memang tidak ramai, hanya Gori dan beberapa pedagang kaki lima yang tak beranjak untuk mengejar penjambret tas itu.

Gori hanya berlari. Yang ada di pikirannya hanya lari. Seperti Gump yang sedang mengadakan misi damai dalam film Forrest Gump. Dirinya seakan melayang, tetapi penjambret itu tampak lebih ringan untuk terbang. Sampai akhirnya penjambret itu lari menaiki tangga penyembarangan. Aaaarghhh !!! sekelibat Gori sempat gentar untuk terus mengejar si jambret. Tapi Gori sudah tak kuasa menahan kakinya untuk melakukan manuver pengereman mendadak, dia hanya bisa memejamkan mata, tangga jembatan penyebrangan saat ini hanya berjarak 2 meter di depannya. Gori terus berlari dan ia pun tak sadar sudah melewati 8 anak tangga. Ia mulai membuka matanya sedikit-sedikit, mencoba melihat agar tidak tersandung. Yah ! tak terasa memang !! Saat ini Gori sudah sampai di atas Jembatan penyebrangan.

Gori menyerah. Takluk terhadap lincahnya kaki si penjambret. Suara napasnya menderu. “huh..huh..huh..” terdengar suara napas Gori yang berat. Dirinya berada dalam posisi seperti orang yang sedang rukuk. Perlahan dia mulai menegakkan badannya. Angin terasa kencang. Sosok si penjambret pun mulai hilang. Sesaat Gori terdiam, Rona wajah sumringah mulai tersirat di wajahnya. Seketika Gori teriak. “EdaaaaaAAANNN !!! gw ada di atas !!! gw bisa naek tangga !!! Hahaha..” teriakan Gori membuat takut orang-orang yang ingin menyebrang. Ia pun menikmati keberadaannya saat ini yang sedang berada di atas jembatan penyebrangan, sambil sesekali di selingi senyuman-senyuman aneh di wajahnya. Mungkin hari itu Gori menjadi salah satu orang yang paling bahagia di dunia. Setara dengan orang-orang yang sukses mengucap ijab kabul, menikmati hari kelahiran, mungkin juga menikmati legitnya perawan. Haha..

Gori mulai bosan dengan keadaan di atas jembatan penyebrangan, ia pun berniat untuk turun kembali menemui Resta yang mungkin saat ini sudah menjadi agar-agar karena terlalu lama menunggu. Sambil tersenyum senyum sendiri ia nikmati semilir angin yang berhembus kencang. Sampai akhirnya ia mencapai ujung jembatan penyebrangan.

Entah mengapa. Gori menjadi pucat seketika. Kegelisahan seolah merenggut senyuman-senyuman aneh di mukanya. Dia terdiam memandang ke bawah. Mengambil HP dari saku celananya. Lalu menelpon Mordar.

“Halo..”. Mordar menjawab telepon dari Gori.

“DAR…CARANYA TURUN TANGGA GIMANA YAaaa…??!!”

Lo mao keliatan PINTER ?!

by Unknown , under

Lo mao keliatan pinter, karena lo selalu mencampuradukkan bahasa asing di tiap sela-sela omongan lo dan sebenernya lo cuman ngerusak tatanan bahasa yang udah ada...

Lo mao keliatan pinter, karena lo punya segudang buku-buku dengan judul-judul yang handal dan tersusun rapi di kamar lo, tapi pas ada org yg nanya isi salah satu buku yg lo punya. Tetep aja lo cmn jawab ba...bi...bu...ehm

Lo mao keliatan pinter, karena lo tau banget seluk beluk, tetek bengek, cara mikir, dan segala rupa yang menyangkut lawan jenis lo..

Lo mao keliatan pinter, karena lo selalu make istilah-istilah aneh dan benernya cuman lo sendiri yang tau artinya..

Lo mao keliatan pinter,karena mulut lo oke banget ngeluarin rentetan ayat-ayat suci, padahal mah kelakuan lo....uhm

Lo mao keliatan pinter, karena lo selalu dikelilingin barang-barang berteknologi paling mutakhir dan lo seolah-olah gape' banget sama barang handal lo, padahal sih cuman ngikutin jaman aja...

Lo mao keliatan pinter,karena lo banyak omong dan selalu punya cerita tentang aktivitas-aktivitas lo dengan orang-orang terkenal, seolah-olah lo emang bagian dari hidup mereka..

Lo mao keliatan pinter, karena lo selalu dateng ke forum-forum yang isinya hal-hal kritis, dan sebenernya itu cuman sebuah doktrin yang sifatnya kontradiktif..

Lo mao keliatan pinter, karena lo bisa seharian mikirin suatu hal sampe lo ga keluar-keluar kamar, jidat lo terus-terusanan dibikin mengkerut,, sampe ada garis-garis yang ngebekas di jidat lo itu..

Lo mao keliatan pinter, karena lo pengikut setia suatu paham dan lo selalu masukin jargon-jargon andalan dari "dewa-dewa" lo itu di setiap obrolan..

lo mao keliatan pinter??
GW ENGGAK !!!
gw ga mao cuman "keliatan" gw mao bisa "merasakan"
seperti waktu lo fokus terhadap satu hal...

kekuatan fokus ibarat cahaya...
klo cahaya itu menyebar, kekuatannya jadi lemah..
tapi.. waktu cahaya itu fokus, cahaya bisa punya kekuatan yang besar..
seperti laser yang bisa motong baja...jieh...

*____*