Blog Entry

Cara turunnya Gimana yaa... ???!

Selasa, 01 September 2009 by Unknown , under

Gw Gori… Mereka biasa memanggil gw Gori. Panggilan ini gw dapet bukan karena semata-mata tampilan gw yang memang mirip gorilla (seperti yang mereka bilang). Nama Gori sebenernya hanya setitik hasil praktek bullying yang terjadi di pendidikan Negara kita saat ini. Bullying ??!! Ya !... Bacot senior yang suka ngomong ngasal waktu OSPEK emang bukan sesuatu hal yang gampang buat di bendung. Celetukan mereka yang kadang-kadang sukses bikin guratan di jidat gw emang dah ga bisa di hindarin lagi.

Awalnya mereka memanggil gw “Bayi Gorilla”, hanya satu oknum senior yang memanggil gw dengan cara yang beda. Pelafalan sebutan “Bayi Gorilla” dia treakin ala abang-abang asongan yang sering lo temuin di terminal-terminal atau bis ibukota. Cara dia manggil gw dengan treakan “Bayi Goro..rilla..Goro..rilla..rilla..rilla..rilla !!!” berhasil ngebuat orang-orang di sekitar gw tertawa, mesem-mesem, cekikikan. Termasuk Maba2 yang saat itu senasib kaya gw…TERTINDAS !!!

Lama-lama sebutan “ Bayi Goro..rilla..” mungkin terlalu kepanjangan buat mereka sebut, dan mereka pun menyingkat nama panggilan itu dengan sebutan “GORI.” Oke… Label ini bukan sesuatu hal yang gampang buat langsung gw terima. Gw sadar ini OSPEK, suatu acara kampus yang bentuknya kolosal dan dengan adanya satu oknum senior pembawa bencana itu. Nama gw sekarang jadi berubah total dari RM. Aryo Suryolangit menjadi Gori. Yaaaa…seenggaknya hikmah yang bisa gw ambil dari nama baru itu, gw jadi tenar di kalangan senior maupun angkatan gw sendiri. Hahaha….KENCUR !!! (masih menyimpan dendam)

Sekarang gw mulai terbiasa dengan panggilan Gori…dan ini tahun pertama gw kuliah di Malang… gw tetep punya masalah ??!! Ya ! gw hidup, pasti bermasalah. Bukan masalah keuangan yang biasa di derita mahasiswa rantau, Tapi masalah ini terus muncul akibat trauma masa kecil gw yang pernah jatuh di tangga penyebrangan. Masalah gw…climacophobia atau biasa kita sebut PHOBIA TANGGA.

“Gor !!!” ( tiba-tiba suara keras memanggil dengan logat batak)
Itu Mordar, dia salah satu perantau dari tanah batak yang kuliah satu jurusan bareng gw.
“Wei dar ! darimana lo?!” (ekspresi muka gori sedikit aneh)
Gori sadar saat ini dirinya menjadi sorotan orang-orang di sekitarnya. Mordar memang mempunyai suara oktan tinggi hingga bisa memecah keramaian di sudut kampus.
Tiba-tiba…
“Praak ! pek kepek kepek…” suara lompatan burung merpati yang terbang menerobos daun-daun kering di pohon membuat keramaian seakan bangun kembali setelah mati suri karena hebatnya suara Mordar.

“Darimana…?? Kau yang kucari-cari dari tadi. Kemana saja ??! bak hilang dimakan closet saja kau !!.” Mordar berbicara sambil memperhatikan wanita-wanita di sekelilingnya. “Dimakan closet ?!!” Gori heran, sambil mengernyitkan dahinya. “Tai dong gw !!!.” Jawab Gori menghentak. “Hahaha…becanda kawan.” Mordar terlihat senang setelah sukses mengejek Gori.

“Eh…kudengar hari ini kao mao ngedate ?!” Tanya Mordar dengan nada nyolotnya.
“dengan siapa?. Wanita fakultas sebelah itu??!”. Mordar memang mempunyai ketertarikan yang berlebihan dengan sesuatu yang menyangkut lawan jenis, jadi ga heran kalo dia bisa memberondong beribu pertanyaan tentang wanita. “iya.” Jawab Gori singkat dan ga terlalu bersemangat dengan pertanyaan-pertanyaan Mordar. Sebenarnya Gori merasa gugup dengan acara ngedatenya kali ini, bukan karena wanita yang ingin di temuinya, tapi karena obat penenang yang biasa dia pakai bila bertemu tangga memang sudah habis.

“Kenapa kau Gor?! Pengen ketemu gebetan kok malah lesu begitu..payah ah !”. Tanya Mordar heran dengan reaksi Gori. “Obat gw abis dar” jawab Gori kembali singkat. Saat Mordar mulai membuka mulut ingin menanggapi jawaban gori, tiba-tiba terdengar suara cw.

“Mordaaaar…gmn ?!...%$##@#%%^” . (suara cw yang terbiasa dengan rumpi, gossip, dan semua hal yang ga bisa bikin mulutnya diem kecuali hanya untuk tidur)
Cw itu Brusel. Dia temen sekelas gw yang emang dah kliatan banget klo seneng sama Mordar. Tapi mordar cuma nganggep Brusel jd fansnya aja. Hahaha.. dasar bandit !

Kemunculan Brusel bikin Gori langsung dicampakkan oleh Mordar. “Dar ! gw cabut dulu ya !” Coba Gori memberi tau Mordar akan keberadaannya, tapi Mordar tetep bicara seru dengan Brusel. “Gw takut telat..dah janjian nih !”. Mordar tetap asik dengan Brusel, respon yang dia berikan pada Gori hanya sekedar telapak tangan yang terbuka, menandakan bahwa Mordar memberikan izin Gori untuk pergi.

Pada tempat berbeda…
Terlihat sosok cw cantik dengan body aduhai memakai baju terusan dipadu sepatu converse menunggu di depan etalase mall. Cw cantik itu Resta. Dia cw yang saat ini janjian untuk kencan sama Gori.

Terdengar napas Gori yang tersengal-sengal. Dirinya langsung menghampiri Resta yang daritadi keliatan dah nunggu. “Resta.. maaf ya telat..hehe” sapa Gori sambil mengatur napas dan jarak tubuhnya dengan Resta akibat keringat yang membanjur. “ga papa kok, baru bentar nunggunya”. Suara Resta merespon Gori dengan renyah. Keduanya pun langsung masuk ke dalam mall. Sebelumnya mereka memang telah sepakat untuk menonton film saat itu. Dan Gori pun baru tersadar bahwa bioskop berada di lantai 3.

Pergolakan di dalam dirinya mulai terasa, Keringat-keringat ketakutan mulai muncul di kulitnya sebesar biji jagung. Resah. Kisruh. Gori tak bisa menghindar ketika escalator berjarak kurang lebih 10 meter di depan mukanya. “Res.. aku ke kamar mandi dulu ya bentar” ucap Gori mengelak untuk nyoba hindari escalator dari tatapan matanya. “nanti aja di atas…ntar keabisan tiket lho !” desak Resta memaksa Gori. “ Aduh maaf Res..aku kebelet banget nih…maaf ya..” Gori langsung pergi buru-buru ninggalin Resta, langkahnya yang cepat memang membuat Gori seakan akan betul-betul kebelet boker. Gori pun terus mempercepat langkahnya, tapi dia bukan pergi menuju kamar mandi, melainkan pergi keluar mall tersebut. Gori mulai tak peduli dengan nasib Resta yang menunggu dia di dalam.
Secara tak sadar, Gori telah jauh meninggalkan mall tersebut. Kecemasan di dirinya berangsur angsur mulai larut dengan hingar bingar suara kendaraan di jalan dan ia pun mulai memperlambat langkahnya. Dalam hati sebenarnya ia kesal dengan keadaan ini. “Anjrooot ! parah banget gw. ah ! trauma sialan ! obat pake acara abis lagi… apa kata Resta nih kalo besok gw ketemu dia. Mati deh gw” Sambil berjalan yang tak jelas arahnya, Gori tiba-tiba baru terpikir…”Aaaargh !! Gila !! kenapa gw ga kepikiran buat naik lift yah !! Goblooook !!!..hahah” Ketika Gori ingin kembali menuju mall yang telah di tinggalkannya, tiba-tiba terdengar suara jeritan ibu-ibu. “Tolooooong !! tas saya di jambret !!!!”. Mendengar teriakan itu, Gori langsung tanggap.

“Braaaak !!” seseorang menabrak Gori dari belakang. Gori hampir tersungkur. Orang itu pun langsung lari kembali tanpa menghiraukan Gori yang hampir jatuh. “woi anjing ! liat-liat dong kalo di trotoar !!” teriak Gori kepada laki-laki yang telah menabraknya. Dirinya pun sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada laki-laki tersebut. Feelingnya mengatakan dialah si penjambret tas. Tanpa pikir panjang, Gori langsung mengejar laki-laki tadi. Keadaan trotoar memang tidak ramai, hanya Gori dan beberapa pedagang kaki lima yang tak beranjak untuk mengejar penjambret tas itu.

Gori hanya berlari. Yang ada di pikirannya hanya lari. Seperti Gump yang sedang mengadakan misi damai dalam film Forrest Gump. Dirinya seakan melayang, tetapi penjambret itu tampak lebih ringan untuk terbang. Sampai akhirnya penjambret itu lari menaiki tangga penyembarangan. Aaaarghhh !!! sekelibat Gori sempat gentar untuk terus mengejar si jambret. Tapi Gori sudah tak kuasa menahan kakinya untuk melakukan manuver pengereman mendadak, dia hanya bisa memejamkan mata, tangga jembatan penyebrangan saat ini hanya berjarak 2 meter di depannya. Gori terus berlari dan ia pun tak sadar sudah melewati 8 anak tangga. Ia mulai membuka matanya sedikit-sedikit, mencoba melihat agar tidak tersandung. Yah ! tak terasa memang !! Saat ini Gori sudah sampai di atas Jembatan penyebrangan.

Gori menyerah. Takluk terhadap lincahnya kaki si penjambret. Suara napasnya menderu. “huh..huh..huh..” terdengar suara napas Gori yang berat. Dirinya berada dalam posisi seperti orang yang sedang rukuk. Perlahan dia mulai menegakkan badannya. Angin terasa kencang. Sosok si penjambret pun mulai hilang. Sesaat Gori terdiam, Rona wajah sumringah mulai tersirat di wajahnya. Seketika Gori teriak. “EdaaaaaAAANNN !!! gw ada di atas !!! gw bisa naek tangga !!! Hahaha..” teriakan Gori membuat takut orang-orang yang ingin menyebrang. Ia pun menikmati keberadaannya saat ini yang sedang berada di atas jembatan penyebrangan, sambil sesekali di selingi senyuman-senyuman aneh di wajahnya. Mungkin hari itu Gori menjadi salah satu orang yang paling bahagia di dunia. Setara dengan orang-orang yang sukses mengucap ijab kabul, menikmati hari kelahiran, mungkin juga menikmati legitnya perawan. Haha..

Gori mulai bosan dengan keadaan di atas jembatan penyebrangan, ia pun berniat untuk turun kembali menemui Resta yang mungkin saat ini sudah menjadi agar-agar karena terlalu lama menunggu. Sambil tersenyum senyum sendiri ia nikmati semilir angin yang berhembus kencang. Sampai akhirnya ia mencapai ujung jembatan penyebrangan.

Entah mengapa. Gori menjadi pucat seketika. Kegelisahan seolah merenggut senyuman-senyuman aneh di mukanya. Dia terdiam memandang ke bawah. Mengambil HP dari saku celananya. Lalu menelpon Mordar.

“Halo..”. Mordar menjawab telepon dari Gori.

“DAR…CARANYA TURUN TANGGA GIMANA YAaaa…??!!”

0 Responses to 'Cara turunnya Gimana yaa... ???!'

Posting Komentar