Blog Entry

Saya dan (yang) Menggantikannya..

Selasa, 01 September 2009 by Unknown , under

Pagi itu entah kenapa seperti ada sesuatu yang merujuk saya pergi ke masjid untuk melakukan sholat subuh.

Ketika saya membuka pagar rumah, sekilas saya lihat dua cahaya kecil berusaha menangkap setiap gerakan tubuh ini. Saya tak ambil pusing. Ini masih gelap. Tak heran bila cahaya berpantulan. Saya pun bergegas menuju masjid.


Di tengah jalan, seok-seok sendal jepit saya yang bersetubuh dengan aspal seperti mengeluarkan gema. Sesaat saya berhenti. Suara desahan sandal masih terdengar. Saya menoleh kebelakang. Tampak sekelebat bayang seorang laki-laki yang mengekor sambil memanggul sesuatu. Gerak kaki semakin saya percepat. Bunyi gesekan speaker masjid pertanda muadzin membisikkan ikhamah mulai terasa. Akhirnya saya pun sampai masjid saat imam mengucap takbir rakaat pertama.


Dengan membetulkan sarung sedikit dan menggulung bagian tangan kemeja. Saya langsung memulai syaf ketiga. Tak lama setelah kami serempak meneriakkan “Aaaaaamiiiiin.” Sebagai pucuk surat al-fatihah. Tiba-tiba muncul sesosok laki-laki tua di samping saya. Kucel. Tengik. Lusuh dengan celana pantalon yang di biarkan tergulung sebelah sampai mata kaki.


Shalat subuh selesai. Saya meregang. Tapi tidak dengan jamaah yang berada di masjid itu. Mereka terlalu patuh. Seperti tahanan yang siap di eksekusi mati. Diam. Hening. Mendangak seakan peluru siap masuki jidatnya. Ini bulan puasa ! dan peluru itu hanya kultum subuh dari si khatib.


Saya bosan. Tak duduk lama. Jenuh diri saya mendengar kultum. Sudah cukup kultum saat menjelang maghrib, taraweh, dan sahur untuk saya. Sebelum angkat kaki, sempat saya melihat tubuh meringkuk kumal di sebelah. Dan saya pun melepas senyuman basi ke mukanya.


Sesampai di luar, lagi-lagi entah kenapa. Saya tak ingin langsung pergi. Saya malah asik membalik-balikan sandal, seperti orang yang sedang membuat jagung bakar.


Tak lama kemudian, laki-laki tua kucel. Tengik. Lusuh itu pun keluar dari masjid. Membalas tatapan saya dengan senyum sumringah paling segar yang saya lihat di pagi yang gelap itu. Sesekali saya perhatikan dirinya bingung. Celingak-celinguk. Ouh... ternyata sandalnya yang sebelah, terselip di pantat saya. Dan tak sadar telah mengotori sarung yang saya pakai. Aaarrrgh !


“Maaf dek, itu sendal saya...” Suaranya lemah terdengar sayup di telinga saya. “ Bagaimana pak...?” hardik saya meminta penegasan suara. “ Maaf, itu sendal saya di pantat ade...” Masih konsisten dengan suara lembutnya. “Oooh iya maaf... ini pak..” lanjut saya sambil memberi sandalnya yang mulai hangat karena pantat.


Melihat dirinya sebentar. Saya langsung menoleh ke jalanan. Tiba-tiba suara lemah dari arah samping mulai mencolek gendang telinga saya. “ Ga dengerin kultumnya dek...?” Coba lelaki tua itu berkomunikasi dengan saya sambil membereskan bawaanya yang lebih mirip seperti bakul. “Engga pak...” jawab saya sambil menikmati udara pagi yang mulai terkontaminasi dengan bau tubuh si lelaki tua itu.


Sebenarnya dalam keseharian, saya bukanlah seseorang yang ketus bila bertemu dengan orang baru, tak peduli apa latar belakangnya. Tapi rutinitas akhir-akhir ini, serta pikiran yang agak kacau, sepertinya berhasil hinggap di tubuh. Dan tai kucinglah itu semua !!! sukses menguliti keramahan saya.


Dengan sesekali melihat muka si bapak yang penuh senyum, saya pun melunak. Untuk kedua kalinya saya menyebut sebenarnya. Saya itu mempunyai ketertarikan tersendiri bila berbicara dengan laki-laki yang lebih tua atau biasa kita sebut bapak-bapak. Mungkin karena latar belakang saya yang tumbuh besar tanpa melihat kewibawaan seorang bapak beserta cerita-cerita hebat di kepalanya.


“Bapak darimana..?” Tanya saya memulai kembali percakapan. “ Dari Rangkas dek...” Jawabnya penuh senyum. “ Rangkasbitung pak..?” tanya saya kembali heran ketika ia meyebut asalnya yang lumayan jauh. “iya dek..ini..uhm...bapak kemarin abis jualan telor asin, trus pas mo pulang ternyata bapak keabisan kereta, yaudah.. jadi aja tadi nunggu istirahat di depan rumah orang, trus...pas subuh.. bapak ngikutin orang yang ke mesjid aja...hehe..” Jawab si bapak disertai senyuman-senyuman kecil yang ikhlas. Ouh ternyata bayangan yang mengikuti saya ke mesjid tadi, si bapak ini (besit saya dalam hati). “Bapak udah sahur..?” tanya saya menyambung jawaban si bapak barusan. “ Alhamdulillah udah dek... tadi pake telor asin yang bapak jual...sama nasi sisa semalem...” jawab si bapak dengan senyuman. “Adek lagi nunggu...” tanya si bapak setelah hening sesaat. “Engga pak..” jawab saya cepat. “ Lah terus ngapain...?” tanya dia kembali kepada saya. Mendengar pertanyaan itu saya hanya menggeleng kecil sembari memberi senyuman kepadanya.


Tiba-tiba, si bapak lusuh itu kembali mengoceh. “ Adek mo tau sesuatu...?” tanya si bapak kepada saya dengan nada yang datar. “ Maksudnya pak..?” Jawab saya heran dengan pertanyaannya itu. “ Coba adek merem...” Perintah si bapak terhadap saya. Entah kenapa, saya pun langsung menurut pada perintah si bapak itu. Dan suaranya terdengar berbisik kepada saya “ Coba bayangin satu sosok di hidup adek...” Tak perlu lama, saya pun langsung membuka mata ingin menanyakan maksud si bapak itu, tetapi saat saya menoleh ke mukanya, dia langsung memotong “ itu ayah kamu ya...?”. Sontak saya pun diam. Berpikir. Jawaban si bapak benar !!. Belum sempat saya menjawab, si bapak mulai bertanya kembali. “ Kamu kangen ya sama ayah kamu...?”, tanya dia. Akhirnya saya mulai bersuara. Dengan pelan saya bertanya “kok bapak tau...?”. Dia pun menjawab datar dengan senyuman yang masih setia bertengger di mukanya. “Kangen kamu itu pasti ada alesannya kok... Ga perlu khawatir, sosok ayah kamu itu emang ga bisa di gantiin...tapi secara ga sadar, kamu sudah ketemu orang-orang yang ngegantiin ayah kamu...”. saya pun semakin heran dengan perkataan si bapak tadi dan bertanya. “Maksudnya apa pak?”. Dengan bijaknya dia menjawab “kadang allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang bisa menggantikan peran orang lain dan biasanya kita gak sadar, karena kehadiran mereka gak setiap hari ada di kehidupan kamu...”. Mendengar perkataan si bapak yang berubah menjadi bijak. Saya pun menjadi menerawang. Memang, pagi itu saya sedang tak ingin banyak omong. Tak ingin berpikir keras. Hanya nikmati udara pagi. Sampai-sampai saya pun menjadi tak sekritis biasanya. Saya tak peduli darimana dia bisa menebak apa yang ada di pikiran saya. Yang pasti, perkataan si bapak tadi ada benarnya.


Suara si bapak kembali memecah kebengongan yang sedang saya alami. “Dek..kyanya bapak harus berangkat ke stasiun.. takut ketinggalan kereta lagi..hehe”. Mendengar perkataan si bapak tadi. Saya pun langsung reflek bertanya dan mencoba menawarkan sedikit uang kepada si bapak. “bapak ada ongkosnya?...ini?” Saya berani bertanya seperti itu, karena saya lihat masih ada sedikit uang di kantung kemeja, yang tadinya saya bawa untuk mengisi kencleng masjid, namun saya lupa hingga uang itu masih bersemayam di kemeja saya. Pikir saya mungkin uang ini lebih bermanfaat untuk si bapak.


Dengan tangkas dan tergesa-gesa, si bapak menjawab “ada dek, gak usah...ga apa-apa...makasih dek...” “Bener pak..?” lanjut saya mencoba kembali menawarkan uang itu. Si bapak pun tetap menolak. Tetapi saya ingin uang ini menjadi miliknya. Akhirnya saya berusaha menemaninya sampai depan mesjid dan menyelipkan uang itu di bakul telor asinnya tanpa ia sadari.


Sampai di depan mesjid, kami pun berpisah. Dia mengambil jalan ke kanan dan saya ke kiri menuju kediaman orang tua saya (rumah). “Mari dek...saya duluan..Assalamualaikum...”. ucap si bapak sambil melangkahkan kakinya menjauhi diri saya dan masjid. “Iya pak...walaikumsalam...hati-hati” Jawab saya kepada si bapak.


Saya pun mulai mengahadapkan badan ke kiri, berjalan menuju rumah yang siap menerkam kantuk yang mulai menggelendoti mata saya. Selang 8 langkah meninggalkan masjid, saya berusaha membalik badan, ingin melihat si bapak tadi. AH SIAL !! DIA HILANG !!!. Pikiran macam-macam mulai menghampiri saya di gelapnya pagi. Tapi saya tak mau lama-lama ambil pusing. Ini bulan puasa, katanya setan sedang cek in di hotel prodeo alam gaib sana. Tak peduli bapak yang tadi itu SETAN atau MANUSIA, tak peduli dia GAIB atau NYATA, tak peduli dia MALAIKAT atau IBLIS. Yang pasti dia sudah membuat saya memasuki pikiran jelek yang terus menghantui hidup saya. Dan saya yakin proses yang saya alami ini menuju hal positif.


Dalam perjalanan ke rumah, saya mulai meresapi kata-kata si bapak tadi. “ Ya ! saya memang kangen dengan papap (panggilan kepada bapak saya), kadang saya suka iri ketika mendengar cerita teman saya yang mendapat petuah handal dari bapaknya, cerita-cerita sakti ayahnya, komentar-komentar pedas ayahnya...Lantas saya ?!!” . Pikiran negatif mulai tumbuh kembali di kepala saya.


Saya menjadi mengingat-ingat. Siapa saja sosok yang telah menggantikan papap?. Sekilas sosok bapak tua mulai hadir di memori saya. Pak Nanang. Beliau mulai terlupakan oleh saya tahun ini. Dimana dua tahun yang lalu saya pernah menumpang di rumahnya selama 2 bulan sewaktu KKN. Dan ia selalu kuat membagi cerita kepada kami hingga larut malam. Mungkin saat-saat itu yang tak pernah saya alami sebelumnya bersama seorang ayah. Hingga akhirnya pada saat saya pulang pun, baru kali itu saya merasa ada seseorang yang masuk hitungan baru kenal, bisa menangis terseguk-seguk sambil memeluk dan membisikkan harapannya ke telinga saya. Ya dia sosok yang menggantikan, setiap orang tua pasti mempunyai harapan ke anaknya. Pada tahun sebelumnya beliau masih sering memantau keadaan saya, tapi tahun ini beliau mulai hilang. Mungkin ini salah saya, salah kami, yang tak pernah merespon baik setiap perhatiannya. Dan ini teguran untuk kembali menanyakan kabarnya.


Sosok kedua yang terlintas di pikiran saya adalah seorang bapak-bapak yang nyeleneh. Uwa Lukman. Dirinya selalu blak-blakan dalam memberi nasihat, tapi itu kenyataan dan sesuatu yang di bicarakan olehnya pasti ada benarnya.


Satu per satu, Sosok-sosok lain pun mulai bermunculuan di kepala saya. Mereka memang sosok yang menggantikan, mungkin juga termasuk bapak tadi.


Sepanjang jalan menuju rumah, saya terus memikirkan orang-orang yang menggantikan itu. Saya masih beruntung bisa dipertemukan orang-orang seperti mereka, mungkin mereka tidak hadir setiap saat, tapi mereka tak terlupakan, walau kadang saya tak sadar.


Bila saat ini kalian masih bisa melihat kehadiran seorang ayah...

Jangan sia-siakan dirinya..


Jika kau sempat..

Buatlah dirinya tersenyum kembali seperti saat ia melihatmu terlahir dengan sehat di dunia ini dan bahagiakanlah dirinya seperti saat pertama kali kau panggil namanya setelah ia sibuk dengan rutinitas kerjanya.


dan Jika kau mampu..

Bila tiba saatnya nanti, bisikanlah suaramu dalam adzan di telinganya, sama seperti ia mengantarmu ketika muncul di kehidupan ini.


+___+

0 Responses to 'Saya dan (yang) Menggantikannya..'

Posting Komentar